Berjuang untuk bisa terlelap

Oct-20-2007

oon

Menurut wikipedia Sarjana adalah: adalah gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana (S1) atau undergraduate. Untuk mendapatkan gelar sarjana, biasanya dibutuhkan waktu selama 4 (empat) sampai 6 (enam) tahun.

Menurutku: “Horbo i pe molo dirahuti di kampus selama 5 taon boi do gabe sarjana”. (Kerbau kalau diikat dalam kampus selama 5 tahun bisa juga sarjana).

Sebagai cowok batak yang saat ini mencari calon pasangan hidup seorang cewek batak, kata Sarjana ini sering menjadi sesuatu yang menakutkan dalam pikiranku. Bagaimana nanti kalau aku ketemu seorang cewek batak yang berpikir bahwa yang cocok mendampingi hidupnya harus cowok batak yang sarjana pula? Atau bagaimana nanti kalau aku ketemu orang tua batak yang berpikiran bahwa yang cocok menikah dengan anaknya harus seorang sarjana? Apa yang harus aku lakukan kalau terjadi hal seperti itu?

Hal ini sering aku diskusikan dengan teman-teman cowok batak yang notabene bernasib sama denganku yaitu cowok cowok batak yang bukan sarjana. Saat-saat membahas masalah seperti ini sering berujung menjadi sesuatu yang dianggap lelucon. Bagaimana tidak? Ternyata di jaman sekarang ini gelar sarjana ini sangat menentukan apakah akan mendapat restu atau tidak dari orang tua cewek batak untuk berhubungan dengan anaknya.

Walaupun banyak teman teman cewek atau cowok yang sudah sarjana mereka selalu bilang bahwa gelar sarjana itu tidaklah begitu penting. Tetapi karena mereka sendiri tidak akan berhadapan dengan situasi seperti yang aku hadapi ini mereka bisa saja mengganggap masalah itu sepele. Yah.. wajar saja mungkin. Wong mereka tidak akan pernah mengalaminya karena mereka memiliki gelar sarjana. Jadinya anggapan anggapan mereka itu tidak pernah bisa menghilangkan rasa pesimisku untuk mendapatkan cewek batak seperti yang aku inginkan.

Di kalangan beberapa orang tua batak yang memiliki anak perempuan, banyak terjadi penolakan-penolakan apabila anak perempuannya tersebut berhubungan dengan cowok batak yang tidak memiliki gelar sarjana. Seperti yang baru-baru ini aku alami. Entah itu benar atau hanya sekedar alasan “aku ditolak dengan alasan tidak memiliki gelar sarjana”. Tapi aku bisa menerima keadaan itu koq, aku tidak perlu marah atau kecewa dengan alasan itu. Kalau saat inipun misalkan aku memiliki gelar sarjana belum tentu mereka menerimaku. Mungkin saja ada alasan lain untuk menolak. Kesimpulanku aku tidak berjodoh aja dengan dia. He…he…he… terlalu sederhana ya?

Yang aku heran dari kejadian yang baru aku alami ini, kenapa sih mereka tidak melihat bahwa ada potensi dalam diri seseorang itu walaupun dia tidak memiliki gelar sarjana? Apakah mereka mengganggap kalau aku bukan sarjana aku tidak bisa menafkahi anaknya nanti? Bukankah berkat itu datang dari Tuhan? Bukan karena memiliki gelar sarjanakan? Toh aku juga diberkati Tuhan tanpa aku harus memiliki gelar sarjana. Apakah aku harus bergelar sarjana sehingga aku bisa menerima berkat? Nggakan?
Kalau aku melihat kenapa masih ada orang tua batak memikirkan bagaimana dia dapat menikahkan anak perempuannya sama cowok batak sarjana, alasan itu hanyalah untuk membanggakan diri pada saat mengirimkan undangan pernikahan anaknya nanti. Supaya orang berkomentar “sarjana do hela na i”. Pernahkah dapat undangan pernikahan dari orang batak tanpa mencantumkan gelar yang sudah dia miliki? Bahkan aku sendiiri pernah mendapatkan undangan pernikahan dimana kedua pengantin tercantum gelar sarjana yang aku sendiri tidak tahu kapan itu mereka dapatkan. Yang saya tahu kami sama-sama meninggalkan bangku kuliah dengan alasan tidak jelas.

Apa sih yang dicari dengan mencantumkan gelar tersebut? Hanya supaya dikomentari doang bahwa kedua pengantin itu sarjana atau tidak. Mereka hanya peduli dengan gelar sarjana tersebut. Mereka tidak pernah peduli walaupun seseorang yang tidak memiliki gelar sarjana bisa juga menerima berkat yang melimpah dari Tuhan. Mereka tidak pernah menyadari kalau untuk menerima berkat itu tidak harus melewati persyaratan pendidikan minimal S1. Emangnya menerima berkat itu harus jadi pegawai negeri sipil dulu?

Belum lagi kalau kita lihat begitu banyak orang yang memiliki izazah sarjana tapi kertas selembar yang menjadi bukti bahwa dia pernah menyelesaikan 144 sks sewaktu kuliah hanya tersimpan tak berguna di tumpukan file-file dalam lemari. Bahkan kalau kata orang-orang sih sekarang banyak supir angkot dan kondektur angkutan umum memiliki gelar sarjana. Benarkah? Kalaupun benar, inilah yang kumaksud dengan kerbau-kerbau yang terikat selama 5 tahun di kampus tersebut. Seharusnya mereka bisa bekerja dengan menggunakan otak, bukan dengan menggunakan otot. Apa bedanya dengan kerbau tadi yang tetap saja menggunakan otot? Tapi masa bodohlah dengan orang orang seperti itu. Aku sendiri sebenarnya tidak mau dibandingkan dengan orang orang seperti itu.

Yang paling aku syukuri pada Tuhan, saat ini aku bisa menerima berkat yang melimpah dari Dia. Kusadari kalau Tuhan selalu memberiku berkat yang melimpah. Tuhan tidak pernah bertanya ataupun berkata “berkatmu kecil karena kamu bukan sarjana” Justru yang kudapatkan berkatku melimpah karena aku bukan sarjana.

Dini hari Pkl. 02.22

32 Responses so far.

  1. SiPumpe says:

    Ah tekku sarjana2 muna i…kikikikik… molo holan gelar sarjana do boi mabbaen ho dohot itoani i pajodoh gappang do i. Tuhor hon ma sertifikat gelar S1 i jakarta manang i bandung muna i. Ai godang maraburan universitas2 na so jelas nuaeng on. Manang potokopi sertifikat ni dongan sarjana mi, baen gobbar mu na mardasi kupu2 i, baru laminating ma. Bea inna roham, mantap do kan??

    NB : Ai idia hea adong horbo i tabbat 5 taon i parsikkolaan gabe sarjana, yang benar dong loe, kecuali horbo jadi2an. ‘Tul gak lae?

    Reply

  2. Bang Juntak says:

    He…he… he… pola ajaranmu ahu anggo laho manuhor do, tu dia i, sarupa do i dohot horbo na nirahutan di kampus i. Alai coba ma jolo ikuti teori na hubahen i da? Boan horbo mi sada tu kampus, rahuti ma disi 5 taon on pasti do gabe sarjana i. hahahahah

    Reply

  3. xoxo says:

    Tenang..tenang…gak semua kok seperti yang ito liat….. kalau aku sih, melihat isi hatinya dan skillnya….kalau titel bisa kok di beli di indo…*twing twing*

    Pas ma i songon na nidok ni anggiku si Pumpe….. Godang sonnari na sarjana gabe pengangguran..tumagon pengangguran daripada tukang beca ninna…tumagon mate daripada maila…ninna na sarjana i….kwekwkekwkewkekwkewewkkwe…..

    Horas ma ito, manang na boha pe tetap do songon poda ni tua tua najolo ..ROHA I DO NA PORLU !!

    xoxo

    Reply

  4. BeaTrix Hite says:

    sedikit protes bang…..

    yang pertama “Menurut wikipedia Sarjana adalah: adalah gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana (S1) atau undergraduate. Untuk mendapatkan gelar sarjana, biasanya dibutuhkan waktu selama 4 (empat) sampai 6 (enam) tahun.”

    untuk SE ku,,,,aku lulus 3,5 tahun….hahahaha….

    yang kedua “Kalau aku melihat kenapa masih ada orang tua batak memikirkan bagaimana dia dapat menikahkan anak perempuannya sama cowok batak sarjana, alasan itu hanyalah untuk membanggakan diri pada saat mengirimkan undangan pernikahan anaknya nanti. Supaya orang berkomentar “sarjana do hela na i”.

    untuk ini akyu tak begitu bisa berkomentar…yang pasti kemaren pas aku nikah di TING-TING di gereja aku ga pake GELAR ku…..di buku nikah juga ga…..so what gitu loh?????

    Cuman, hal kaya gini ga bisa kita salahin siapa2 juga Bang, karena hal kaya gini kita juga yang MANGGALAKKON. Kaya kemaren pas aku nikah, karena ga pake embel2 titel masa ada yang mikir aku juga bukan sarjana, blom lagi nanya kerja dimana, amang taheeeee…..kenapa urusan kita malah orang lain yang sibuk yah????

    Eh….tahe….tapi gitulah….mau ga mau…kita tinggal di komunitas orang2 yang masih sibuk dengan mempergunjingkan status orang lain….

    Yang paling miris adalah Natua-tua yang suka ngata2in anak orang lain, “kuliah ga bonafit lah….”, “kerja di perusahaan kecillah…”, hanya karena anaknya kuliah ditempat yang mahal…..ujung-ujungnya anaknya ga kelar kuliah, kabur dari kampus karena kasus narkoba atau ngehamilin teman sekampus….

    Nah…kalo dah gitu gimana???mendingan mana????anak kuliah tempat biasa tapi baik2 atau anak kuliah tempat mahal tapi ga kelar malah DO….

    Trus kata2nya yang nyakitin orang lain tadi gimana????
    Waduh…..dijilatin lagi dong muntahnya????

    bah…….

    Horas dihita saluhutna…

    Reply

  5. Bang Juntak says:

    Wah kalau semua orang berpikir kayak kalian ini, kayaknya masalahku ngga akan muncul deh. Selamat ya buat Pernikahan dek Beatrix… ingat jangan terlalu remeng sama suami .:P

    Reply

  6. Tumbur says:

    uhhh it’s too complicated, but apapun permasalahan yang dihadapi harus tetap optimis, jangan berkecil hati. (Jadilah diri sendiri).
    Permasalahan lae bisa diatasi,,, saya tahu jawabannya :
    Lae harus MEMPERTEBAL KEPRIBADIAN. Biarpun tidak ada gelar / titel sarjana, kalau itu sudah terwujud pasti orang tua si perempuan dengan senang hati (welcome) menerima lae.
    Maksudnya dengan MEMPERTEBAL KEPRIBADIAN adalah :
    1. Punya Mobil PRIBADI
    2. Punya Rumah PRIBADI
    3. Punya Deposito PRIBADI
    Di Jamin itu semua kalo sudah ada pasti dech orangtua si perempuan tidak lagi menanyakan gelar….

    Reply

  7. getuk_lindri.enet says:

    Ha ha ha ha itokkon…..

    Itoooo godang do sarjana manang insinyur na menganggur seumur hidup boa mai.

    Reply

  8. Bang Juntak says:

    Ai molo sarjana na songon i antong ndang pola sipatudoson tu bariba on ito. Mauliate ito nunga berkunjung tu situs hon da?

    Horas

    Reply

  9. tugiran says:

    Bos, ai boi aroha horbo i maretong ? molo boi ba mungkin do gabe sarjana … :D
    Sebelumnya thx mp3-nya … sdh ku download , muuuannntaaappp …
    Sarjana kan hanya menambah wawasan berpikir kita lebih maju,bang … misalnya kalo hanya sebatas smp ubi diolah jadi tapioka, di sma tapioka ada kandungannya, di kampus ada ayam kampusnya eh sorry ada yg lain lagi dan bisa dimanfaatkan, di s2 mengenal prospek bisnisnya dll .. mungkin gitu x ya ..?
    Jadi ceritanya putus cinta karena gelar nih ..? makanya waktu melamar janganlah bilang “naeng marhansit-hansit …” mana ada ortu yg mo ngasih anaknya bersakit-sakit … hehehe
    Bagi sebagian orang gelar tsb hanya untuk memperindah kartu, tapi sebaiknya kita yg udah tau fungsinya ya janganlah ikut-ikutan buat gelar tsb, malu kita sama orang bule ga ada yg pake gelar , kalau bukan kita yg memulai siapa lagi …? aku sarjana tapi diundangan ga kucantumkan … kalo ga lupa ya hehehhe

    Reply

  10. Bang Juntak says:

    Tapi kan kalau kita mau membaca buku dan ada niat untuk lebih maju ngga harus di barengi ijajah akademik kan lae? Aku pikir kalau lae bisa menyimpulkan SMP bisa mengolah Ubi sampai tapioka, kalau SMA bisa tahu kandungan tapioka itu, S1 dan seterusnya lebih tinggi lagi. Itukan masalah pola pikir? Kenapa ngga pernah melihat pola pikir si cowok batak bukan sarjana ini? Kenapa harus menuntut ijajah sarjananya?
    he… he… hata marhansit-hansit di si kan lae bukan berarti mau membawa anaknya hidup menderita, itu kan cuman menghaluskan penyampaian kata-kata. Mereka juga pasti bisa kan melihat si doli partandang on bisa ngga nanti hidupnya lebih bagus lagi.

    Mauliate dah berkunjung ke situs ini.

    Reply

  11. Natalie says:

    DICARI …….

    ITO-ITO YANG BERKEPRIBADIAN TEBAL, HORBO OR NOT IT DOES NOT MATTER….

    MAULIATE,
    HORAS

    Reply

  12. Horas Lae…
    Sebenarnya soal sarjana atau tidak ini bukan ijazahnya itu yang perlu Lae, yang penting itu ilmunya bisa dipakai atau tidak…
    banyak orang Batak saya lihat yang salah kaprah, hanya ikut2an, anaknya bakat di bidang lain, tetapi dipaksa2 kuliah biar dapat ijazah sarjana, yang terjadi adalah si anaknya ga beres kuliah, jadinya D.O atau kuliahnya ancur-ancuran…
    Kita masih harus banyak belajar untuk mengetahui Bakat dan Potensi orang, misal si anak potensinya di bidang musik mending didukung untuk menjadi pemusik kan? bukan dipaksa2 harus kuliah untuk dapat Ijazah… atau misalnya anaknya sudah otak bisnis, ya mending didukung untuk berbisnis ajah, yang ada dipaksa2 juga harus kuliah… jadi lah kuliahnya hancur…

    Itu hanya pola pikir Lae, jadi ga usah lah Lae pusing itu…
    kalau ada cewek yang tidak mau ama Lae hanya karena tidak punya gelar Sarjana, berarti beruntung lah Lae, karena Lae pasti bisa dapat cewek yang jauh lebih baik dan mencintai Lae…. bukan mencintai gelar sarjana ….

    Horas mardongan holong…

    Reply

  13. Ikutan ngomentari i”jazah sarjana beda dengan pendidikan sarjana”. Ijazah bisa bikin sendiri, bahkan baru-baru ini marak gelar DR dan Prof., hanya kuliah umum di ruko–> wisuda, selesai. Saya setuju bahwa pendidikan sarjana adalah mereka yang pola pikir ilmiah terimplementasi pada pekerjaannya, apapun pekerjaannya asal halal. Misalnya “mar-babi” (memelihara babi) pernah saya lihat anak muda yang ngak mau jadi PNS pulang kampung lantas mar-babi, punya ternak babi 20 ekor (impas), dan saat ini 24 ekor dia sudah sama penghasilannya dengan PNS golongan VI b masa dinas 25 tahun, karena tiap bulan dia jual 2-3 ekor, harga satu ekor jadi biaya operasional 1 bulan, sisanya adalah pendapatan bersih. Ada lima drum isinya kulit kopi campur ubi dan daun-daunan dengan ragi untuk fermentasi makanan babi biar cepat gemuk (tutupnya saya buka, harumnya seperti TKW campur anggur merah), makanan babi yang dimasak dicampur dengan bahan itu. Dia bekerja hanya 3 jam ngurus itu babi tiap hari, bukan cuman mikir tapi dikerjakan. Horas Amang.

    Reply

  14. Ikutan ngomentari i”jazah sarjana beda dengan pendidikan sarjana”. Ijazah bisa bikin sendiri, bahkan baru-baru ini marak gelar DR dan Prof., hanya kuliah umum di ruko–> wisuda, selesai. Saya setuju bahwa pendidikan sarjana adalah mereka yang pola pikir ilmiah terimplementasi pada pekerjaannya, apapun pekerjaannya asal halal. Misalnya “mar-babi” (memelihara babi) pernah saya lihat anak muda yang ngak mau jadi PNS pulang kampung lantas mar-babi, punya ternak babi 20 ekor (impas), dan saat ini 24 ekor dia sudah sama penghasilannya dengan PNS golongan VI b masa dinas 25 tahun, karena tiap bulan dia jual 2-3 ekor, harga satu ekor jadi biaya operasional 1 bulan, sisanya adalah pendapatan bersih. Ada lima drum isinya kulit kopi campur ubi dan daun-daunan dengan ragi untuk fermentasi makanan babi biar cepat gemuk (tutupnya saya buka, harumnya seperti TKW campur anggur merah, makanan babi yang dimasak dicampur dengan bahan itu. Dia bekerja hanya 3 jam ngurus itu babi tiap hari, bukan cuman konsep tapi dikerjakan. Horas Amang.

    Reply

  15. Dimpos says:

    ai nakejam ma lae puang. hita sarjana daong naeng mangalului hamoraon. alai mangalului ilmu do jadi belum tentu seorang sarjana i. gabe mamora. binoto do lae par babi/ tokke ……? babi

    Reply

  16. mauliate molo boi dijalo bergabung.
    katanya bukan cowok batak tapi bergelar sarjana
    bukannya orang batak yang tidak bergelar sarjana
    jadi yang mana yang benar

    Reply

  17. aku deh says:

    Horas…. membaca judulnya… rada mengusik juga…
    Tapi, setelah dibaca, I feel better. Yang terakhir itu yang patut disimak. Jadi apalah arti sarjana. You are unique, and I am proud of you. Mending tahu sekarang deh dari pada nanti2. Kalau jodoh takkan kemana …
    Keep smiling and be happy. We re here to support u

    Reply

  18. nova saragi says:

    cowok batak harus punya gelar sarjana baru bs gandeng br. batak yang punya gelar sarjana juga?
    klo itu aq sedikit kurang setuju sih…
    sekarang ada ko cowok batak yang ga punya gelar sarjana tapi bisa sukses.
    malah lebih sukses dari yang punya gelar sarjana..
    itu sih tergantung kepribadian kita masing2…giman kita menghadapi hidup yang keras ini.
    malahan sekarang bayak Owner yang bukan sarjana…
    hamoraon itu datang dari Debata..
    bukan karena klo sarjana lantas lebih kaya dari yang bukan sarjana.
    sekarang banyak ko lulusan S1 dan S2 yang menganggur..
    nah klo dah gitu gimana dong?
    pasti kita akan berpikir., buat apa dapet cowok batak yang sarjana
    tapi nganggur, mendingan milih cowok batak yang ga sarjana sama sekali deh tapi banyak duitnya ya ga? hehe……………
    kita kuliah sampe sarjana kan biar dapet banyak ilmu….
    bukan buat dipamer2 ke orang2…
    kaya kata komen yang diatas..” sarjana do hela nai ate ”

    Gitu dulu deh Tulang….

    Mauliate

    Reply

  19. Andrew bLack says:

    “Untuk mendapatkan gelar sarjana, biasanya dibutuhkan waktu selama 4 (empat) sampai 6 (enam) tahun.”

    Laeku…aku gak setuju ini…
    aku selesai 7 tahun hehehe

    Reply

  20. ruly says:

    yah aku setuju kali sama abg, yg belum jodohnya itu huehe..
    klu alesan itu macem2nya, ada yg udh sarjanapun tp ga dr ptn,
    ada yg dr sarjana ptn pun masih lebih keren dr luar negeri sana..
    ada yg udah tiga2nya eh masih blm s2 muse.. mslh kerja lg deeste

    songonni do saonari, sipata songon sipatu :D

    Reply

  21. item says:

    toho doi sude nanidok munai.
    songoni dope huroa namasa.

    Dang pola sala molo adong namarbaju na manganganhon ikkon sarjana si doli nanaeng manopot ibana. Hak na do mangalului na dumenggan di ibana. Ba gabe motivasi mai tu angka si bawadi, asa lam ringgas marsiajar di parsikkolaan.

    Niingot dope najolo molo attar mangisi biodata di parsikkolaan, biasana sai adong do kolom “pendidikan terakhir orang tua”. Mungkin naung diantisipasi ibana do tu gelleng na haduan.

    alai sai dohot ma iba markomentar, hape iba pe tong do ditolak.
    umparahan dope molo hurang kegantengan.

    Reply

  22. robson says:

    horas lae….

    salam kenal lae…..
    aku bc blog lae…,jd kena ma hatiku…..

    kenapa ya sekarang orang2 kita,khususnya orang tua si cwe harus memaksakan anaknya yg cwe mendapatkan cwo bertitelkan s1??
    padahal si cwo bknya gak mampu ngelanjut lg,hny faktor ekonomi keluarga yg membuat si cwo jd gk bs ngelanjut….

    au pe gabe minder lae…
    tp dang i na mambaen au gabe mundur….
    alani huingot hata2ni debata na maddok…

    bahwa:

    Tuhan memakai orang BODOH untuk mempermalukan orang yang merasa dirinya PINTAR,dan memakai orang LEMAH untuk mempermalukan orang KUAT..

    hata2 debatai do na mabbaen au torus maju….
    memang haccit do na dang marsikkolai lae,tp aha do na dihata,molo faktor ekonomi do na mabbaeni sude….

    itu hny sepenggal cerita dr beribu-ribu kisah perjalanan hidupku lae…

    mauliate atas blog ni lae…
    semoga tambah maju….

    Tuhan berkati

    NB:aku pengen kenal jauh lg ma lae,add FS ku ya lae
    fatal.flu@gmail.com

    Reply

  23. ~ds says:

    molo naeng muruk tu pariban mon…go head iban hasian…
    ALAI, taon!!??
    dang songon i,ban?
    jangan ambek!

    senyum dulu diri mu, ban…hehehe…sumringah dunk??

    gak nyangka aja seh kok keluar lagi tulisan seperti ini…arggghhhhh…
    dang hurippu (salah gak neh tulisannya)
    gabe songon on…ate ban?

    cerita cinta dalam suka duka, sakit hati, emosi, kejugulan, arti teman & sahabat, TAON and terakhir berbahagia dunk?!

    ciaouwww…

    peace & love
    ~ds

    Reply

  24. imellg says:

    bagus!!!!!!!!!humor nai bah,,,,,,,,,,,
    tapi lucu

    Reply

  25. imellg says:

    tlg add email ku ya
    saudara
    ito- ito ku
    mauliate godang
    Gbu

    Reply

  26. Harris Juntax says:

    Aps.. jd sarjana itu bagus dan tidak jadi sarjana itu juga bagus
    jadi tidak ada masalah dengan kesarjanaan…

    Horas…..

    Reply

  27. Vency says:

    Kalau begitu, janganlah cari cewe sarjana, bang… biar seimbang, sama2 lulus SMA.

    Reply

  28. hammijon Sianipar says:

    marboha baenon ma hamu ito…
    sai adong do leanon TUHAN i simatua na so mangalului hela sarjana…alai ingkon sabar do ito…songon na tarsurat i…
    he he..sai pasu2on na do na serep dohot burju rohana…

    Reply

  29. medianty says:

    unang pola marsak hamu ito taringot nasosikkola sarjana hamu. Memang didok halak adong do pengaruh ni sikkola i. alai ndang i nagabe patokan. Naparjolo sahali lului hamu ma karejomuna na cocok tu hamu. Molo hira-hira hurang penghasilan bah boi do mangalului sambilan museng. Napaduahon parhaseang hamu ulaonmuna i. Godang hamu martangiang, godang hamu manukkun tu angka dongan, pasti siboru adi pe boi do marlomo ni roha tu hamu nang pe ndang sikola sarjana. mauliate

    Reply

    Jetro Reply:

    Ai boru aha do hamu ito?

    Reply

  30. Frans Hasibuan says:

    Aku Seorang sarjana pendidikan Elektronika Komunikasi UNJ. Kalau aku lain lagi ceritanya, waktu 5 tahun yang lalu. Sampai sekarang tanggal cerita yang membangkitkan emosiku itu gak akan aku lupa (19 september 2004). Apalagi kalau aku ingat kejadian itu, ingin rasanya aku memberikan balasan yang setimpal kepada tulangku itu.

    Begini lae ceritanya : Waktu itu aku ingin mendekati anak Tulangku yang kebetulan pernah menjadi guru abangku. Di masa abangku masih SMA, abangku pernah menjadi muridnya. Saat itu Tulangku seperti mengejar – ngejar abangku itu untuk diperjodohkan dengan anaknya yang bernama Betty Manurung, karena abangku termasuk yang terpandai di kelasnya. Bahkan Namtulangku (mamanya Betty) itu sering memanggil Betty dengan nama Roberto (abangku). Apalagi di masa abang saya kuliah di Trisakti (kampus yang kata orang sangat bergengsi), tingkah polah tulang – namtulangku ini semakin menjadi – jadi saja terhadap abangku ini. Praktis saja abangku sering diajak untuk berkunjung ke rumahnya agar bisa bertemu dengan Kusmiaty “Betty” Manurung, perawat di carolus itu.

    Tetapi pada saat abangku mengalami gangguan kejiwaan (mulai 1997), semuanya menjadi lain. Tulangku itu seakan menghindar dari abangku. Tetapi dia sering datang ke rumahku untuk berbincang bincang membicarakan tentang kondisi pekerjaannya dan cerita tentang kehidupan. Tapi aku tahu bahwa tulangku ini sangat berjasa waktu menemukan abangku yang sempat hilang sekitar 2 bulan lamanya, di daerah Blok M (Sekitar April – Juni 2002).

    Tepatnya tahun 2003, aku pernah ke rumah Tulangku untuk bertahun baru. Di sana aku bertemu dengan anaknya yang lain, bernama Magdalena, D3 akademi perawat lulusan RS Persahabatan. Aku sangat tertarik dengan dia, tetapi saat itu orangtuaku mengatakan bahwa menikah dengan perawat (profesi Magdalena) itu sulit.

    Tetapi setahun kemudian (2004), Ayahku menyuruhku untuk berkunjung ke rumah tulangku dengan harapan aku bisa bertemu dengan Magdalena. Alasan Ayahku, bila hubunganku lancar dengan Magdalena, aku bisa menikah dengan dia supaya orangtuaku memperoleh cucu. Karena ayahku merasa sudah tua dan juga sering sakit -sakitan. Aku sendiri senang bila seandainya bisa menikahi gadis yang aku taksir itu.

    Minggu pertama dan kedua september 2004 kala aku datang ke rumah Tulangku itu, semuanya lancar, aku diterima oleh tulangku ini untuk sekedar makan nasi dan semur ayam dan ngobrol (tanpa kehadiran paribanku, magdalena). Di minggu kedua, di saat aku datang, aku bertemu dengan Namtulangku, hanya saja beliau seperti mewawancaraiku saat menanyakan apa pekerjaanku. Namun apa yang terjadi, di minggu ke tiga (19 September 2004, sehari menjelang pilpres 2004 / yang menang SBY, he … he … he …). Ketika itu di rumah Tulangku sedang ramai (anggota keluarganya banyak yang berkumpul) karena akan ada arisan keluarga. Di saat itu aku bisa bertemu dengan Magdalena di dapur. Tetapi Namtulang dan Tulangku malah “mengusir” aku dengan memintaku menjaga warungnya, alasannya di dapur sedang repot. Apalagi Namtulangku itu mengusirku jauh – jauh dari tempat di mana aku masih bisa menatap Magdalena. Bahkan untuk bermain mobil – mobilan dengan anak Tulang-Namtulangku yang masih balita (di ruang tamu), aku kembali di usir (mentah-mentah) dan diminta untuk menjaga warung. Lebih gilanya lagi saat aku ditawari makan pakai paha ayam yang besar dan Arsik, lengkap dengan telur ikan mas yang sangat besar oleh Tulangku, si Magdalena didorong – dorong (pakai ujung payung … !) supaya cepat pergi oleh Namtulangku sampai – sampai dia naik angkot yang salah jurusan. Kejadiannya sekitar jam 2 siang. Padahal aku tau, Si Magdalena masuk kerja jam 5 (masuk shift malam).

    Apakah hanya karena kedatanganku di rumahnya, Magdalena harus diusir dari rumahnya, seolah – olah dia harus buru – buru berangkat kerja ? Apakah karena abangku abnormal (hingga kini … ) sehingga Tulang-Namtulangku enggan untuk berbesan dengan keluargaku …? Apakah karena Tulang-Namtulangku mengharapkan pasangan hidup Magdalena adalah orang yang mempunyai pekerjaan yang hebat dan kaya, sementara aku adalah seorang guru (kalau tulangku seorang guru, mungkin dia ingin agar menantunya bukan hanya seorang guru … ?) … ?

    Sangat berbeda kalau Tulangku itu datang ke rumahku. Kalau Tulangku datang ke rumahku selalu saja dijamu dengan makanan yang enak – enak oleh orangtuaku, yah minimal sprite, kue dan rokok Tji Sam Su 1 bungkus, dsb. Itupun kalau untuk menawarkan kue saja, aku di minta orangtuaku untuk membungkuk hormat kepada Tulangku. Padahal waktu itu umurku sudah 26 tahun (kok masih disuruh belajar menghormat ? …….. !.

    Ketika aku pamit pulang setelah habis makan (kepada Tulangku), dari kejauhan aku melihat Tulangku berbicara dengan salah satu dari tiga tamunya yang bermobil mewah. Agaknya salah satu pemilik mobil mewah ini mencoba menawarkan diri untuk “meminang” salah satu anak Tulang-Namtulangku itu dengan canda tawa yang khas. Kebetulan kupingku masih bisa menangkap isi pembicaraan mereka. Barangkali Tulangku akan senang hati menerimanya bila “tawaran” itu jadi kenyataan. Tetapi kalaupun tamu tulangku itu tidak mengambil Magdalena, toh aku gak akan mempedulikannya lagi. Karena menurutku Tulangku ini termasuk orang yang materialistis, meskipun miskin dan rumahnya hanya di pinggir jalan Basuki Rahmad (Duren Sawit).

    Huh, apa jadinya kalau aku jadi menantunya. Bisa bisa aku hanya diremehkan oleh Tulangku kalau aku dianggap berpenghasilan rendah …. tetapi sampai kini pun aku belum menikah, karena orangtuaku sendiri terlalu menuntut dengan kriteria yang tidak jelas tentang siapa wanita / calon pasangan hidup yang akan menjadi pasangan hidupku ….. Tapi hingga kini aku berusaha dan berdoa kepada Tuhan agar aku diberikan teman hidup yang sepadan.

    Reply

  31. [...] terhadap alam sekitar serta hewan adalah hanya dengan kata ‘CINTA’ yang diberikan-Nya. Kisah ‘CINTA’ bisa terjadi dalam banyak persoalan, bukan hanya terjadi dalam kisah ‘CINTA dua insan manusia [...]

Leave a Reply





Sponsors